IKLAN OPERATOR SELULAR MAKIN GANAS,KONSUMEN JADI KORBAN

IKLAN OPERATOR SELULAR MAKIN GANAS

Tingkah operator seluler saat ini memang masih seenaknya sendiri terutama menyangkut urusan promosi. Tengok saja, mereka membuat iklan sesukanya tanpa mengindahkan aturan. Memang meski tak ada tata cara baku mengenai tertib beriklan atau berpromosi trik membodohi konsumen seharusnya sudah dihentikan sejak awal dan tak diulang lagi.

Operator seluler masih saja mengumbar janji manis ketimbang memperlihatkan performa. Seharusnya operator membuktikan kinerja layanannya kepada konsumen terlebih dahulu sebelum menjual kecap. Saat ini, janji-janji operator yang bertebaran tak selalu bisa diharapkan terealisasi.

Selain hanya berupa gimmick, janji yang di umbar operator lewat iklan masih terlalu banyak mengandung unsur pembodohan publik. Jurus iklan operator masih belum di benahi, tak edukatif serta cenderung berlebihan.

Meski fenomena perang tarif dan promosi sudah sedikit mereda, namun iklan yang megusung nilai rupiah dengan angka di bawah satu rupiah dengan sejumlah nol masih saja beredar. Bahkan baru-baru ini, gembar-gembor promosi yang masih bersifat seperti itu kembali di gencarkan oleh operator.

Salah satu operator papan atas mulai lagi menggelontarkan yang berlebihan. Dengan tagline Rp 0,01/detik sampai puas, operator ini coba mengakali konsumen.

Tapi, jika dikaji lagi, ternyata hitungan dan promo yang menjadi gimmick tersebut tidak sama dengan rupiah yang kita keluarkan saat rumus-rumus di belakang dikalkulasi.

Ya, jika dihitung-hitung, biaya yang dikeluarkan konsumen tak pernah sesuai dengan yang ditebar. Pasalnya,semua yang di promosikan seolah-olah konsumen membayar Rp 0,01/detik hanya buhong belaka. Di belakangnya tetap saja ada embel-embel syarat dan ketentuan berlaku.

Hingga sekarang, belum ada aturan jelas dari pemerintah tentang iklan-iklan yang menyesatkan dalam industri selular. Memang sudah seharusnya dibenahi ulah operator yang mencari celah kelemahan hokum periklanan. Saying, terkait hal ini pemerintah hanya dapat melakukan himbauan saja tanpa memberikan sanksi atau tindakan tegas.

Bukan suatu hal aneh jika sosialisasi dan aturan yang seolah hanya bersifat mengingatkan tanpa sanksi dari regulator tak membuat operator menjadi jera. Padahal,di sela-sela gimmick bombastis dari operator mereka terus meraup penambahan pelanggan yang tak sadar mereka sedang dikibuli. Jumlah pelanggan yang terkecoh pun bertambah.

Sementara, dari sisi yang berbeda, penambahan jumlah pelanggan berkat promosi gila-gilaan justru tak disertai dengan insfratuktur memadai. Akibatnya, kapasitas layanan yang disediakan tak mampu menampung kebutuhan pelanggannya. Ujung-ujungnya kualitas pun merosot.

Jadi sekarang, perihal promosi tak kunjung rampung kini ditambah masalah kualitas layanan yang tak optimal. Padahal, pengguna seluler sendiri sangat berharap iming-iming operator sesuai dengan kenyataan plus rumusan regulasi yang mengatur perihal QUALITY OF SERVICE (QoS) akan membuat penyelanggara telekomunikasi lebih berhati-hati dalam memberikan layanan.

Sayang, hal itu belum sepenuhnya terjadi! Lihat saja, keluhan masyarakat tentang kualitas layanan operator masih menyeruak sementara promo bombastis meraup keuntungan terus bergaung.

Berbulan-bulan sejak regulasi QoS mulai berlaku (1 april 2008), implementasinya tak seperti yang dibayangkan masyarakat karena layanan operator masih belum memuaskan dan cenderung carut-marut. Terlebih lagi, trik operator membungkam sosialisasi QoS dengan promosi tarif serta persaingan iklan membuat regulasi ini sedikit terlupakan.

Ya, gema regulasi QoS seolah hanya sekedar numpang lewat saja tanpa ada bekasnya. Sementara promosi denan gimmick yang berlebihan dari operator justru masih terus terjadi sampai sekarang. Belakangan, setelah komplain mutu layanan sms dan voice sedikit mereda, giliran layanan data yang banyak dikeluhkan.

Konsumen harus memahami bahwa mereka bisa menuntut operator seandainya janji iklan yang ditawarkan tidak dipenuhi. Dalam undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, mereka mempunyai hak atas informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa begitu pula sebaliknya pelaku usaha.

Dikutip dari tabloid pulsa edisi 155 th VI / 2009 / 15-28 april

Oh iya, sekedar informasi. Mungkin anda semua masih ingat dengan promosi salah satu operator GSM terbesar di Indonesia dengan symbol “hati”nya yang menjanjikan kartu perdana dengan masa waktu yang tak terbatas. Ternyata promosi itu hanya OMDO alias omong doang. Kini promosi itu sudah ga berlaku lagi. Apakah anda semua pernah mendengar/mengetahui sebelumnya? Jujur, saya sendiri juga kaget waktu membaca kolom forum nya kompas mengenai salah satu pelanggannya yang sudah jadi korban dari iklan operator tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s